Sebelum Menuju Selanjutnya

Selamat tanggal 29 April blog, untuk ke-4 kalinya. You know, sekarang waktu surealis, dan masih ada beberapa jam menuju pagi dan menuju ke perjalanan gue selanjutnya. Jadi, dengan di temani playlist dari soundcloud, pada jam segini akan gue persembahkan post blog gue ini kepada manusia-manusia yang, bisa dibilang, ada disaat through my hard time. ((Wow)) Advertisements

Written by Heartbreak

So, hello, blog. Berhubung gue masih UTS tapi besok libur, gue rasa ini waktu yang tepat buat gue menulis, dan kali ini gue mau sharing tentang opini gue, yaitu tentang keadaan yang marak dialamin remaja zaman sekarang; heartbreak. Well, disini gue bukan membahas tentang ‘gue’ tapi tentang ‘opini gue’, so I won’t tell you when’s the…

meracau. #2

  Seperti berlari bersama detik. Tapi kau sendiri tidak tahu, kapan tepatnya detik itu berhenti. Kemudian olehNya, di bawa kau pergi jauh. Melewati ruang dan waktu, menuju singgasana keindahan– –tempat tenang, nyaman; impian. Menyaksikan galaksi berdistraksi, menatap bumi bagai teropong. Terbuai akan fantasi. “Biar sajalah kau cecap dulu hasil dari nafsumu!” UjarNya. Apa kau sendiri…

meracau.

        Ini jalan tak berujung. Dimana kau tidak tahu sama sekali, entah tiba-tiba ada sebongkah batu besar yang menghentikan langkah, atau bahkan seuntai jurang yang bisa menjatuhkan asamu.   Tapi, kepercayaanmu, sama tingginya seperti langit, yang tidak pula menghilang sekali pun malam. Ia juga sebesar gunung, yang kokoh diterjang badai– –sama yakinnya dengan tanah…

From The Other Side

Ika Natassa bilang di twitternya baru-baru ini, bahwa setiap seniman mempunyai ‘Muse’nya untuk dijadikan inspirasi untuk karya mereka. Dari awal zaman dahulu yang masih memuja dewa-dewi, sehingga sekarang berganti menjadi Muse berupa manusia biasa. Seniman; itu bisa berarti pelukis, musisi, begitu juga penulis. And to be honest here, my Muse was gone. (Iya. Gue menganggap diri…

Sementara

A, 11:02.     Tuan, tolong berikan aku kesempatan, meski hanya sekedar kesementaraan.   Tentang hiruk, dimana sosokmu tetap aku temukan meski terpuruk.   Berikan aku kesementaraan.   Dengan panas dari ragamu, yang merenggut dinginku.   Sudah terlalu jauh hati ini berlari, terputar-putar dalam lintasan fana rotasi.   Maka, berikanlah aku kesementaraan.   Bagaimana kita…