16. It’s about the chance we didn’t–and not yet–take (What If)

Menurut gue, hidup adalah suatu perjalanan gila yang meski kita udah tahu ujungnya, yaitu mati, but we do the best of us to living it to the fullest.

Kemudian nggak jarang dalam hidup kita dihadapin dengan suatu pilihan, karena memang hidup itu hakikatnya adalah memilih. Even, dari lo bangun tidur aja lo udah menghadapi pilihan dalam diri lo sendiri, kayak “langsung mandi apa sarapan dulu, ya?”. Dari hal-hal kecil sampai besar pun kondisi dalam hidup selalu memaksa kita memilih.

Kadang pun sebelum memilih, terutama dalam konteks yang besar, kita udah overthinking duluan. Nah, disitu muncul suatu “what if” yang kadang malah membuat diri kita takut sendiri (this is currently happening),

What if, all of those things that I’ve been work for ternyata gak kesampaian and I ended up being an usual person?”

What if, all these things that I believe to in the end is all a lie?”

 

Atau dalam konteks sehari-hari yang lebih ringan,

“What if, gue ikut organisasi itu juga ya? Apa nanti gue bakal sibuk dan keteteran banget?”

What if, kalo gue coba sksd sama orang itu ya? Ah, tapi dia kayak pilih-pilih temen gitu,”

What if, gue nggak ngungkapin pendapat dan mencalonkan jadi ketua project, ya?”

 

Dan dari what if itu kita disuruh memilih, do it or not, jalain atau nggak, terima atau nggak. If you choose to do it, you’re lucky enough to get to know new things and out form your comfort zone. Kemudian, jika kita malah takut and choose to not do that “what if”, I warn you to prepare yourself with regretting.

Gue setuju kalo after we take one of those chance, kadang kita bakal merasa sedikit merasa menyesal kalo ternyata yang kita pilih bukan hal yang kita expectso we think about that chance we didn’t take.

 

And I’m not gonna lie kalo bahkan diri gue pernah (dan masih) merasa kayak gitu. Hal-hal yang tidak gue ambil kesempatannya, atau bahkan hal-hal yang gue harapkan untuk kejadian tetapi malah gue diberi jalan lain.

Hal-hal itu kemudian membuat gue berpikir “what if I took those chance at that time?” atau “apa ya, yang bakal kejadian kalo gue dikasih jalannya yang itu?”

Kayak,

There’s this time when I all by myself alone in my room, atau ketika I’m on my way to somewhere and randomly thinking, as I look back how I’ve been doing or what’s the thing that I’ve achieved in my life gitu, I think about all the things I’ve did, all people that close to me atau yang kemudian menjadi jauh, dan bahkan kejadian-kejadian kecil yang pernah terjadi dalam hidup gue,

dan “what if” itu kemudian muncul dalam pikiran gue, dan ini hal yang literally berlarian dalam gue sendiri currently, like

What if, kalo SBMPTN gue pilihan keduanya bukan UGM juga?”

What if, kalo gue keterima di Universitas lain?”

What if, I didn’t live in Indonesia?

What if, I decide to just stay in Jakarta alias ngga ngerantau?”

 

 

Even ketika gue di tengah-tengah kesibukan kehidupan sekitar, di waktu gue dalam perjalanan ke Solo, and when I’m enjoying a concert in the middle of the crowd at night,

What if, you live in Jogjakarta too? Are we still going to be like this now? Atau apa kita bisa do all these things together?”

“What if, I took that chance and told it earlier?”

I wonder how and why, but those thoughts suddenly pops up in my mind, literally at that time. And it keeps bother me for a few days.

And for one of you, who ask me to write about this, I just want you to know that you’ve been running around in my “what if” currently. But, I know there’s nothing I can do about it, because I believe kalo jalan yang masing dari kita as a human being berbeda, universe will lead us to a different secret too, in the end.

 

 

And what if, is still a w h a t  i f; suatu hal yang belum dan juga udah nggak bakal kejadian, and I’ll just let myself sick kalo terus-terusan mikirin hal itu.

So I’ll just let this out here, as my confession in my blog.

And I’ll just keep trying to getting on with my new life.

 

Karena menulis, selain cara release pikiran terbaik, adalah sarana kejujuran gue kepada diri sendiri, and I’m not gonna lie about this thing to myself, again. (because I’ve lied enough)

 

 

Yogyakarta, 2017.

AFA.

 

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s