How is Like Being 18th and How Much it’s Scares Me

It all started at the end of senior high school era.

Menjadi anak kelas 12 SMA dan segala kesibukannya. Di mana pertanyaan-pertanyaan mengenai masa depan bermunculan.
“Mau lanjut kemana?” “Mau jurusan apa?” “Kenapa milih itu? Nggak takut salah jurusan?” “Kenapa nggak milih ini, biar sekalian kerja?”


Mau tidak mau, kita semua dipaksa memikirkan matang-matang langkah apa yang ingin kita jejaki nanti selulus sekolah.

Pergi konsultasi ke BK.
Test minat dan bakat; yang hasilnya ternyata bisa berbeda dari yang kita kira (p.s. memang jangan gampang percaya)

Ikut bimbel setiap 2-3 kali seminggu.

Belum lagi tugas sekolah yang menumpuk.

Belum lagi soal izin dan arahan dari orang tua. Bagaimana ada yang dipaksa untuk masuk jurusan dan perguruan tinggi tertentu, bagaimana boleh atau tidak untuk melanjutkan studi di kota tertentu.

I know if that will good for our future, but sometimes those are the things that making us frustated the most.
Is like most of all in that phase think that whatever our choices we make at that time, will really affect our future.

Suatu keputusan kehidupan.

Karena kita merasa sedang diambang langkah menuju masa depan; antara menjadi tumbuh ‘dewasa’ (dengan memasuki perguruan tinggi) atau merasakan kegagalan dan penyesalan.
And then after that phase,

Setelah usaha dan penantian panjang, we do make it to what we want, but then comes the exciting yet hardest and saddest part: 

leaving home, alias merantau.

All of your friends, one by one, start leaving for college.

Bermula dari pengumuman kelulusan sekolah.

Kemudian wisuda dan pengumuman perguruan tinggi.

Tidak ada lagi yang namanya datang untuk belajar ke sekolah. Tidak ada lagi candaan dan tawa di sela-sela pelajaran. Pun bertemu teman sekelas pun jarang.

They all started leaving you, leaving for their future.

Kota yang tadinya ramai akan teman-temanmu dan berbagai macam tempat untuk dikunjungi, mendadak sepi dan tidak menyenangkan. Karena orang-orang yang dulu sering mengisinya bersama kamu, satu persatu pun juga pergi untuk studi mereka.

Pun dilanjutkan dengan kamu yang juga pergi dari rumah.

I know it’s hard to leave your hometown; rasanya segala sisi dan tempat di kotamu menyimpan kenangan sejak kamu kecil. Teman-temanmu, canda tawa, tangis ataupun cinta.

But, hey, that’s what making you grow up isn’t it?

And that’s life

Kita tidak bisa untuk terus berada di tempat yang sama. Untuk terus bersama teman-teman yang sama setiap saat.
We’ll through this phase. 

And you’ll make a new memory. 

You’ll start a new life; with new people and new place. You’ll got new experiences.

At the end of the day, I promise you, it’s all worth it.

Jadi, lakukan yang terbaik untuk membuatmu terus tumbuh, ya?
(Tulisan ini dibuat karena dalam hitungan jam, ia sudah resmi menjadi anak rantau.)
Cheers!

AFA

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s