Tepat 4 Sebulan Lalu

Bong, aku menulis ini bisa dibilang sebagai persembahan untuk ke-17 tahunnya kamu ada di semesta ini—tapi alasanku yang lain adalah sebagai tanda gue belum ada uang, sih.

Tapi suatu saat, entah setahun kemudian (sebelum kita lulus, tentunya) aku pasti memberimu sesuatu untuk ingat padaku, selain tulisan ini.

Ah, tapi  sudahlah. Aku jangan berjanji dulu, karena kamu sudah punya banyak sisa dari sebuah janji yang tidak ditepati kan, Bong? Tapi aku anggap kalimatku tadi sebagai harapan, jadi aminkan saja, ya.

Jadi, kepada Sebong,

semoga dirimu semakin hari semakin baik; semakin tangguh.

Bayangkan saja dirimu itu bunga, satu-satunya yang berdiri tegap, diantara  bunga-bunga yang layu.

Akarmu yang menjulur ke sedalam-dalamnya tanah, tanda akan pendirianmu yang kuat dan pengetahuanmu yang luas.

Kemudian meski perlahan, kamu terus berkembang ke atas, tumbuh maju dengan pasti. Tapi tentu saja, kamu tidak pernah tahu seberapa jauh perkembanganmu. Tidak. Bunga yang tangguh tidak pernah menengok ke bawah, tidak pernah merunduk, karena sekali saja ia mencoba, layu sudah ia. Menunduk sama dengan menyerah.

Hingga tanpa kau sadari, kamu sampai pada puncak tertinggi. Sebuah tempat kejayaan; bayaran akan kesabaran dan kerja kerasmu. Disambut sang matahari, dan di sekelilingmu merebah hamparan bunga-bunga yang indah, tetapi tidak pernah setangguh dan seberani dirimu. Mereka semua senang nan bangga atasmu.

Percayalah, Seb, kamu lebih dari yang orang-orang kira, tetapi juga tidak seperti yang kamu pikir.

Akan ada sesosok yang hangatnya bagai mentari nanti; yang membantumu tumbuh tangguh, menyinari tanpa ragu, menangkal hujan dengan gagah dan menyambut senang tiap tangkaimu yang menjulang tinggi dan kelopakmu yang terus bermekaran.

Adalah bahagia yang akan menantimu di ujung jalan nanti, karena sebuah perjalanan pasti mempunyai alasannya sendiri.

Dan, perjalananmu masih jauh, Seb. Dewasa juga menjadi hasil dari itu. Sebuah rasa ikhlas dan yakin menjalani hari. Sebuah jaya yang menanti.

Jangan pernah berpikir kamu sendirian diantara hamparan lapang. Karena, selalu ada yang tumbuh menemani dalam hati kecilmu. Mereka yang berbaik hati pasti mengharap akan harap-harapmu menjadi kenyataan.

Adalah cinta dari sekitarmu yang membentuk dirimu sekarang, atau nanti. Entah cinta seorang sahabat, seorang Ibu atau bahkan Tuhannya.

Hingga ketika waktu menjemput dirimu yang siap, cinta yang sesungguhnya pasti datang. Sebuah cinta abadi yang nanti akan menemani dikala ragamu  nun jauh disana.

Hanya saja, aku yakin bukan sosok itu yang kamu butuhkan sekarang, Seb.

Karena, dari sosokmu yang tangguh dan penuh cinta pula, sekarang kamu masih dibutuhkan untuk menyebarkan cinta pada sekelilingmu.

Dan aku, salah satu yang bersyukur karenanya.

-Love, Afong-

Save

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s