meracau. #2

 


Seperti berlari bersama detik.

Tapi kau sendiri tidak tahu, kapan tepatnya detik itu berhenti.

Kemudian olehNya, di bawa kau pergi jauh.

Melewati ruang dan waktu, menuju singgasana keindahan–

–tempat tenang, nyaman; impian.

Menyaksikan galaksi berdistraksi,

menatap bumi bagai teropong.

Terbuai akan fantasi.

“Biar sajalah kau cecap dulu hasil dari nafsumu!”

UjarNya.

Apa kau sendiri sadar, 

yang kau pijak dan saksikan itu, 

semua hanya imaji buatan—kesengsaraan campur bahagia,

yang nyatanya kefanaan belaka?

Makhluk-makhluk bodoh, tak berakal.

Berharap di akhir mereka dapat menari.

Padahal nyatanya,

mereka tertawa tetapi meraung-raung.

Karena dipenghujung,

raga mereka disambar dingin tanganNya,

dan lenyap seketika.

-AFA.

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s