Speed of Sound (???)

Lucu rasanya membayangkan bagaimana waktu cepat sekali berlalu.

Diri gue yang dulu excited mau masuk SMP, dengan diri gue yang udah duduk di kelas 2 SMA sekarang.

Bagaimana gue lalui masa-masa labil gue dalam pencarian jati diri (Well, sekarang juga sih, cuma nggak sealay dulu)

Maksudnya gini loh,

If I look back myself was, gue pasti berpikir diri gue dulu alay parah dan semacam ‘suram’ banget. Berarti nanti, diri gue 5 tahun ke depan, udah pasti bakal berpikir seperti itu, kan?

It’s funny and ironic at the same time.

Disaat gue menikmati masa itu, tapi nantinya gue juga bakalan ketawa dan ‘geli’ sama ‘gue pada saat itu’.

Bagaimana diri gue yang sekarang merasa “Wah, dikit lagi gue mau dewasa loh. Dikit lagi gue punya KTP loh, dikit lagi gue lulus SMA, loh..” yadda yadda dikit lagi lainnya.

Dalam sisi diri gue yang naif ini merasa “Waw, I’m almost on the top of the world”, padahal itu baru setengah dari perseribu langkah yang bakal gue lalui nantinya.

Mungkin tanpa terasa ‘dikit lagi-dikit lagi’ tadi itu bakal berganti menjadi “Ih, dikit lagi gue wisuda. Dikit lagi gue naik jabatan. Dikit lagi gue menikah. Dikit lagi gue punya anak. Dikit lagi gue pensiun. Dikit lagi gue punya cucu. Yadda yadda sampe akhirnya dikit lagi gue mati…”

I know that’s overthinking, tapi kadang rasanya lucu buat ngebayangin itu bakal gimana nantinya.

Dengan diri gue, si Afa-yang-woles-banget-coy menjalani itu semua. Menjalani hidup yang bisa dibilang mirip orang kebanyakan. Hidup yang ‘yaudah nanti abis ini lo ini terus ini sampe ini’ dan berakhir biasa aja.

Nah, I never really want to being there. I never want to living that ordinary life.

Orang bilang, ‘if you want something you never had, you have to do something you never done.”

Ada juga yang bilang, “if you keep worrying about your future, how will you able to enjoy your present?”

Kadang memang terasa wajar buat memikirkan itu semua. Wajar ada masa dimana lo mereka ulang dan bertanya “Dalam diri lo yang udah hampir umur 17 tahun ini, hal ‘keren’ dan bermanfaat apa yang udah lo lakuin, Nis?”

Wajar juga, lo pernah melewati tengah malam dengan buanyak pikiran dan ketakutan. Dan kemudian lo merasa bersalah sama semuanya, dan timbul penyesalan.

Semua wajar buat lo untuk melalui itu.

Mengutip dari lagu Coldplay,

“All that noise, and all that sound,
All those places I got found.
And birds go flying at the speed of sound,
to show you how it all began.
Birds came flying from the underground,
if you could see it then you’d understand,
ah when you see it then you’ll understand?”

Itu wajar kalo lo pernah merasa tidak penting. Wajar pernah merasa lo salah. Wajar pernah merasa ‘everything’s gone wrong’ dan tidak sesuai dengan ideologis dan apa yang lo yakinin selama ini.

Wajar semua berjalan tidak sesuai semau lo.

Tapi seenggaknya, lo masih punya waktu buat ‘menikmati’ dan ‘memperbaiki’ itu semua.

Dan mengutip apa kata orang lagi; “Hanya kita yang tahu apa yang terbaik untuk kita sendiri.”

Climb up, up in the trees.
Every chance that you get,
is a chance you seize.

-AFA

Save

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s