Begitu.

Dimalam yang sesepi ini, aku sendiri, tiada yang menemani.

Berbaring sebentarlah. Menyandarkan kedua kaki ke tembok. Pandangi langit-langit kamar. Berbagai macam pikiran pasti muncul. Membayangkan esok hari, mengulang kegiatan apa saja yang sudah dilakukan hari ini.

Membayangkan mimpi-mimpimu. Mengingat memori dulu.

Hujan turun diluar. Rintik-rintik air memenuhi kaca luar jendela kamar. Memperhatikan satu persatu air yang jatuh. Mendengarkan rintikan hujan itu, seakan sebagai lagu penghantar. Pengulangan itu semakin kuat,

mendalami dan menayangkan memori yang pernah ada dulu.

Tidak. Mungkin kamu hanya takut. Ketika kamu terbesit suatu pikiran, “aku malas untuk kembali. Aku malas untuk memulainya lagi. Terlalu malas.” Kamu sebenarnya takut. Takut seperti semua akan berjalan sama, berakhir pada perpisahan. Takut jika kesempatan itu tidak ada lagi. Takut menghadapinya.

Hujan semakin deras. Menarik nafas panjang. Memainkan jemari. Iseng, malah menyalakan sebuah lagu di playlist favoritmu; yang jelas lagu itu mempunyai banyak pengaruh, dulunya.

Keterlambatan itu ada. Penyesalan pasti juga ada. Lucunya, yang namanya ‘penyesal’ pasti dia dihubungkan dengan si ‘terlambat’. Sebenarnya bukan terlambat, kamu terlalu lama untuk berpikir. Terlalu lama mengkhawatirkan ‘hari esok’, dan yah… Terlalu lama pula, mengulang-ngulang kejadian yang telah dulu.

Begitu. Semua pemikiran menjadi satu. Dituangkan pada secarik kertas sederhana. Kata-kata itu, yang telah disusun sedemikian rupa, juga seakan-akan buyar. Terlalu banyak.

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s