Dora.

Sebenarnya ada beberapa hal yang patut kita iri-in dari Dora.

.

.

Dora, meskipun dia hitam, gendut, seperti itu (ini bukan bermaksud mengejek atau rasis…._.); tapi dia terus PD. Sering main kemana-mana, gak malu kalo ketemu temen baru.

Pun, bajunya yang dia pakai itu-itu juga seringnya. Coba, kalo misalnya kita kayak Dora gitu. Pasti udah dijudge macam-macam.

Dora boleh main kemana-mana, tanpa Ibunya khawatir sama sekali! Pun, meskipun ada penjahat yaa cuma si Swiper itu. Dia juga gak sampe diculik, kan? Swiper dibilangin sedikit, kadang langsung khilaf. Kita mana bisa. Aku jalan ke mall sendiri aja, terus lama, pasti udah dikhawatirin.

Kemudian, lingkungan tempat tinggal Dora; hijau, bersiiih, adem, gak ada kerusuhan, tentram, alami dan damai. Serius, pengen banget punya daerah kayak gitu. Meanwhile in here?

Terus, Dora, meskipun gak sekolah, dia jago berbahasa; sampe bisa ngomong sama hewan! Dia juga bisa menghitung, jago olahraga dan main musik, meski dia suka ‘ngocol’ begitu. Dan dia pernah dapat pernghargaan dari walikotanya! Ini sebenarnya bisa buat pelajaran bahwa; “Pintar gak selamanya harus belajar akademik teruss meneruss. Setiap anak hebat dibidangnya masing-masing. Jangan paksakan mempelajari pelajaran yang berbagai macam, yang kadang justru bukan bidangnya.”

 

 

“Ini kenapa jadi bahas Film Dora, sih. Dora itu kan, tidak real. Cuma kartun, buat anak-anak dan karangan manusia, pula.” Kata orang yang kesal membaca postinganku kali ini.

 

Memang, Dora itu hanya film kartun anak-anak. Dan justru ‘anak-anaknya’ itu; masih polos, memikirkan semuanya secara simpel, dan tidak mempermasalahkan segala sesuatu yang tidak dianggap penting, menghadapi bahwa ‘realita ini gampang, gak seribet yang kita pikirkan, asalkan kita gak terlalu memikirkan itu dan menghadapi dengan bahagia dan simple.’ Begitu kali ya, kira-kira. 

Realita kadang memang menyakitkan, tapi kadang kita lebih baik mengetahui yang real daripada hanya khayalan belaka. Realita, semacam takdir. Lebih sakit mana; hanya diam, benar-benar diam, menanggapi realita yang ada, atau bertindak untuk mengubah realita tersebut? Takdir bisa diubah. Nothing is impossible in this world. Life’s more esaier if you trust Allah. Bukan begitu yang Ia janjikan, dan juga yang dikatakan orang-orang?

 

 

AFA.

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s