Di Negeri di Ujung Tanduk

kehidupan semakin rusak,

bukan karena orang jahat semakin banyak,

tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

 

“Kau tahu, permasalan terbesar di kita hanya ‘penegakan hukum’. Hanya itu. Sesederhana itu. Penegakan hukum adalah obat paling mujarab. Apalagi mendidik masyarakat yang rusak, apatis dan tidak peduli lagi. Bisa kau bayangkan?”

.

Memberantas kesengsaraan. Katanya. Padahal, yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin miskin.

..

Di Negeri di Ujung Tanduk

para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,

bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan,

tapi mereka memutuskan ‘menutup mata’ dan memilih ‘hidup bahagia, sendirian.’

.

Indonesia itu kaya, akan alamnya yang indah, hasil dari alam, pendidikan yang sangat bagus, dengan masyarakat nya yang terbuka–ramah-tamah, lemah-lembut. Angkatan militer nya yang kuat, tambang emas ada dimana-mana. Negara demokrasi, yang adil. Katanya.

 

“Tidak ada demokrasi untuk orang bodoh. Apakah demokrasi sistem terbaik yang diberikan dan difirmankan oleh Tuhan? Tentu tidak. Demokrasi adalah hasil ciptaan manusia. Apakah suara terbanyak itu suara Tuhan? Omong kosong. Berani sekali manusia mengklaim sepihak, fait accompli suara Tuhan.”

.

Apa pantas kita membela Indonesia? Dengan para pengatur dan sutradara negeri ini yang begitu kacau. Mementingkan kesenangan sendiri. Para penguasa semakin berkuasa. Para manusia kecil, semakin tertindas. Dengan setengah masyarakat yang tidak peduli dengan masyarakat lainnya–tawuran, perang sesama suku. Bukan kah kita Indonesia? Kita bersama-sama lahir disini. Sama sama memakai tanah-nya sekenanya. Tapi apa kita masih pantas untuk membela Indonesia–dengan kekacauan dan keadaan yang seperti ini?”

.

.

 

Tanah yang kita pakai dari lahir. Meminum air yang mengalir dari Gunung dan Tanah-nya setiap hari. Membangun di Tanah nya. Merusak para tumbuhan yang tertanam disini. Mencemari air laut-nya. Membasmi hewan-hewan nya. Apa kau tidak malu untuk tidak membela Negeri yang telah kau pakai dari kecil–atau mungkin dari perut– ini?

Advertisements

Leave a Comment about my post below! Thankyou :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s